SAMSIR

KABUPATEN JENEPONTO

Tangis Harus Pecah saat Khatib Bacakan Kisah Nabi Ibrahim di Mesjid Tamanroya

JENEPONTO - Sejumlah jamaah salat Idul Adha, baik dari jamaah laki - laki maupun perempuan meneteskan air mata saat khatib membacakan khutbah kisah Nabi Ibrahim, as dan puteranya Nabi Ismail as di Mesjid Babussalam Tamanroya, Kelurahan Tamanroya, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto.

Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 Hijriah, jatuh pada Minggu, 11 Agustus 2019, salat yang bertepatan dengan ibadah haji di Mekah. Karena itu, Hari Raya Idul Adha disebut juga dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban.

 للهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ.

Dengan kalimat itulah, terjadi suatu peristiwa yang mengerikan dan sungguh amat berat ujian-Nya. Nabi Ibrahim as, diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah SWT yang telah diterimanya.

“Wahai anakku.! Aku telah bermimpi, di dalam tidurku seolah-olah saya menyembelih kamu, maka bagaimanakah pendapatmu?” kata nabi Ibrahim As kepada puteranya Ismail.

Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataaan ayahnya

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat - kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga tidak menyusahkan Ayah. Dan pesan terakhirku sampaikanlah salamku kepada ibuku (Sitti Hajar) berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya” pesan Ismail kepada Ayahnya.

Kemudian dipeluknya Nabi Ismail as dan dicium pipinya, "Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah” kata Sang Nabi Ibrahim kepada Anaknya.

Parang diletakkan pada leher Nabi Ismail as dan penyembelihan dilakukan. Namun pada akhirnya parang yang sudah ditajamkan itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail as dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.

Keduanya pun telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Saat dilakukan penyembelihan mereka merasa bahwa parang tersebut tak mampu memotong lehernya, berkatalah Ismail as kepada ayahnya,

"Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”

Dengan kuasa Nya Allah SWT, tiba - tiba Ismail AS berubah menjadi seekor domba. Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil ham. 

Semoga dengan kisah ini. Kita semua hamba Allah SWT dan ummat dari Rasulullah Muhammad SAW diberikan jalan kemudahan untuk berqurban, karena memberi lebih baik daripada selalu berharap pemberian dari orang lain.


Editor : Samsir